Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2018

Sebuah Kerisauan akan Pertemanan

terkadang lingkungan membuat kita harus berkompromi dengan keadaan. terlalu cepat menyimpulkan dibilang tak sabaran. lalu apa benar jika yang salah , dipertahankan bukannya diingatkan (?) lagi-lagi aku tak suka berkompromi dengan keadaan. kalau kau bilang aku terlalu banyak pikiran, lalu apa jadinya denganmu yang tak bisa diandalkan (?) sekali lagi, apakah benar aku memang harus berkompromi dengan keadaan(?) coba jelaskan dimana letak kesalahan.

Membiru

Gambar
Bertanya tentang luka diri sendiri, apakah hari ini sudah baik-baik saja? atau sebaliknya?  Mungkin aku harus berkata : Sudah, tak perlu terburu.. toh semua akan ada waktunya tak lagi membiru. Kukira hari-hari yang lalu akan membuatku tak lagi menunggu, ah apadaya... aku selalu terburu menyimpulkan sesuatu. Bukan, ternyata bukan . Lagi-lagi aku terbawa angan yang kukira akan melabuh. Sudah kusematkan tanda rencana kapalku ke tujuan semu , ternyata belum saatnya bersandar disitu.  Lalu seperti apa lukaku? Lebih membiru? - (a random thoughts, di tengah bosannya menyusun status ujian stase 4/13 ku)

Bromo di suatu pagi

Gambar
Hei lihat, aku kembali ke tempat ini. Bagiku mengunjungimu lagi bukan suatu hal yg membosankan. Kudengar dirimu sedang terluka dan berduka. Saat sebagian orang berkata "Buat apa kembali , jika yang kau temui bukan dia lagi." aku tetap ingin melihatmu sekali lagi. Bukan untuk mencaci, cuma ingin mengamati seberapa dalam lukamu kemarin. Bukankah pagi selalu membersamai dan tak akan menghianati? Semoga pagi mu pelan-pelan akan mengobati,.. pelan-pelan menghangatkan hatimu yang mungkin sedang dilanda kacau. Aku cuma ingin mengunjungimu sekali lagi, sungguh bukan untuk mengusik harimu.  Kelak semoga ada yang mampu membasuh lukamu dan tumbuh bersamamu.  Kelak aku tetap disini, menjadi seorang teman yang berterima kasih karena denganmu aku mengerti bahwa menemani bukan selalu akan membersamai. . . . Bromo, di suatu pagi.
Kelak suatu hari, di suatu tempat Semoga tanya "Apa kabar?" bukan lagi salah alamat

3/13 Obstetri dan Ginekologi

Hari yang panjang dengan jadwal jaga ding dong (jaga 24 jam-12 jam-24 jam-dst) sungguh melelahkan. Saat mata sudah terasa berat dan langkah yang semakin melambat , kita dituntut tetap prima melayani ibu-ibu hamil mulai dari administrasi, sampai semua tindakan pasien. Stase yang berat (?) secara fisik kukatakan YA tapi secara ilmu dan skill stase ini telah membuatku jatuh hati. Kejadian konyol, mengharukan, dan pencipta amarah semua menjadi satu dalam wadah bernama pengalaman tak terlupakan.  Alhamdulillah aku sudah melewatinya tepatna 5 minggu yg lalu. Di stase ketiga per tiga belasku ini , awalnya aku merasa 'takut' karena banyak cerita yang menyebutkan stase ini sangat menyeramkan dalam artian banyak kerjaan dan banyak cacian ehehe. Dalam dunia per koasan memang sih semua tubuh kita kudu tahan banting nggak terkecuali kuping yang kudu siap untuk dicaci. Awalnya memang berat karena jadwal jagaku yang benar-benar berat, mungkin tidak jadi berat bila kegiatanku jaga cuma on